tagline

 

Nahid bin Suaib (95): Veteran pejuang yg tinggal di sebuah gubug di tengah kebun milik orang

 
Oleh Amanati R Prasodjo
 
Tertawa2 sambil menunjuk ke rumah2 disekeliling kebun. "Alhamdulillah neng saya tetap lebih menang. Orang2 rumah pd bagus tapi ngontrak. Saya, begini2 tetap lebih enak. Ngga dikejar2 bayaran." Ketanya sambil menepuk2 papan rumahnya bagai menepuk seorang sahabat.

Kakek Nahid adalah seorang yg miliki kecerdasan melihat berbagai hal dr sudut positif.
 
Beliau menjelaskan, mengapa Belanda kalah oleh pejuang kita, karena nasionalisme bangsa kita kuat. Senjata kita lebih jelek tapi Belanda takut. Soalnya kita lebih rajin dan taktiknya lebih pinter.
 
Kakek dg senyum manis ini sdh 50 tahun sll bangun Jam 01.00 pagi. Beliau keluar rumah berkeliling mengamati lingkungan. Jika mampir ke tempat warga yg sdg ronda tertidur, ia bangunkan. Jangan sampai ada manusia dg tujuan jelek sliweran ngga lihat. katanya. Beliau inisiatif ronda tanpa digaji dan meminta. Untuk Nasionalisme ujarnya lg.
 
Jika ada warga yg ingin memberinya uang, dia selidiki dulu apakah anak istri si pemberi sdh cukup makan. Jika menurutnya belum, ditolaknya uang itu, dan dimintanya untuk membeli beras keluarga pemberi saja.
 

Hidupnya sll gembira dan ceria. Tampak sekali nyata. Hatinya yang bersih menempatkan dia selalu berada di Surga.

Follow Us On Twitter

Like Us

Link Sahabat

lvri

logo-sane